Banyak orang tidak benar-benar kekurangan makanan atau tempat tinggal, tetapi tetap merasa miskin karena perbandingan sosial yang tanpa henti. Di psikologi sosial, ini dikenal sebagai relative deprivation—rasa tidak puas bukan karena kebutuhan dasar tidak terpenuhi, melainkan karena ada orang lain yang terlihat lebih berhasil, lebih kaya, dan lebih beruntung.
Rasa Iri sebagai Ketidakmampuan Menikmati Hidup Sendiri
Ironisnya, semakin sering melihat pencapaian orang lain, semakin runtuh harga diri sendiri.
Rasa iri dalam kelas ekonomi bawah sering dipahami sebagai kebencian, padahal akar masalahnya jauh lebih kompleks. Ada lapisan psikologi sosial yang membuat seseorang merasa kalah bahkan sebelum mencoba.
Psikologi Sosial Tentang Rasa Iri di Kalangan Masyarakat Ekonomi Rendah
Sejak kecil, banyak individu dibesarkan di lingkungan yang menanamkan rasa tidak mampu:
- pendidikan terbatas
- peluang kerja kecil
- kultur yang mematok batas pada mimpi
Identitas sebagai “orang yang tidak akan berhasil” akhirnya diwariskan turun-temurun.
Inferiority Complex dan Lukanya Harga Diri
Ketika keberhasilan orang lain muncul di depan mata—di media sosial, iklan, gaya hidup kota—muncul kontradiksi: keinginan untuk sukses justru menegaskan bahwa diri sendiri tertinggal.
Inilah akar munculnya inferiority complex.
Keberhasilan orang lain bukan inspirasi, tetapi pengingat bahwa hidup sendiri stagnan. Setiap pencapaian orang lain terasa seperti tamparan psikologis, bukan motivasi.
Penyebab Kesenjangan Sosial yang Menumbuhkan Mentalitas Pasrah
Salah satu akar lain dari rasa iri adalah keyakinan bahwa hidup dikendalikan oleh faktor luar. Dalam psikologi, ini disebut external locus of control. Banyak yang percaya bahwa:
- yang kaya berhasil karena koneksi
- yang berkuasa sukses karena permainan kotor
- usaha keras tidak berarti apa-apa di dunia yang tidak adil
Ketika seseorang percaya bahwa nasib sudah ditentukan sejak lahir, motivasi untuk berubah hilang begitu saja.
Iri Sebagai Mekanisme Perlindungan Diri
Rasa iri kadang menjadi tameng untuk menjaga harga diri. Jika seseorang mengakui bahwa kerja keras orang lain adalah hasil perjuangan panjang, maka ia harus mengakui kegagalannya sendiri. Itu berat. Lebih mudah untuk berkata:
- “pasti ada permainan orang dalam”
- “hidup memang pilih kasih”
- “kesuksesan bukan untuk orang seperti kita”
Dengan cara ini, tidak perlu merasa bersalah karena berhenti berusaha.
Kekuatan Media Sosial Menciptakan Ilusi Kemiskinan
Di era digital, membandingkan hidup tidak lagi sebatas lingkungan sekitar.
Dalam hitungan detik:
- melihat liburan orang lain
- keberhasilan teman sekolah
- foto rumah baru kerabat
Walau seseorang hidup cukup, perbandingan konstan menciptakan ilusi bahwa dirinya selalu tertinggal. Di sinilah kemiskinan berubah menjadi persepsi, bukan realitas materi.
Analisis Psikologi Kemiskinan dan Siklus Mentalitas Kalah
Siklus mentalitas rendah diri berjalan seperti ini:
- Lingkungan menanamkan kepercayaan bahwa diri tidak mampu
- Upaya kecil tidak berbuah hasil
- Rasa pasrah terbentuk
- Perbandingan sosial menambah luka
- Rasa iri muncul
- Iri berubah menjadi sinisme
- Sinisme mencegah perubahan
- Hidup stagnan, siklus berulang
Rasa iri bukan lagi emosi spontan, melainkan produk sistem sosial yang memelihara rasa kalah.
Mengapa Orang Sukses Justru Dibenci?
Ketika seseorang berhasil keluar dari lingkaran kemiskinan, sering muncul komentar:
- “sombong”
- “lupa daratan”
- “pasti memakai cara tidak halal”
Ini bukan sekadar gosip. Ini cara sebagian orang mempertahankan logika bahwa “hidup memang tidak adil.”
Jika ada yang sukses melalui kerja keras, berarti perubahan sebenarnya mungkin. Dan mengakui itu berarti mengakui bahwa selama ini menyerah terlalu cepat. Itulah yang menyakitkan.
Iri Bukan Tentang Uang, Tapi Tentang Eksistensi
Banyak orang miskin tidak iri pada harta, tetapi iri pada kemungkinan. Iri pada fakta bahwa orang lain diberi ruang berkembang. Iri pada kenyataan bahwa hidup bisa berubah, hanya saja tidak semua orang sanggup menanggung prosesnya. Mereka tidak tahan melihat keberhasilan, karena itu mengingatkan bahwa hidupnya sendiri terhenti.
Penyebab Mentalitas Korban Dalam Lingkungan Ekonomi Rendah
Mentalitas “kita memang begini” menjadi identitas kelompok.
Ketika identitas itu dirusak oleh keberhasilan orang lain, muncul reaksi defensif:
- menolak perubahan
- merendahkan pencapaian
- menertawakan proses panjang
Iri bukan sekadar perasaan, tetapi simbol bahwa sistem sosial telah membentuk pikiran untuk tidak percaya pada masa depan.
Sebelum memahami kemiskinan ekonomi, pahami kemiskinan mental. Selama rasa rendah diri terus diwariskan, selama perbandingan sosial terus menjadi ukuran harga diri, dan selama dunia dianggap tidak memberi ruang untuk berubah, maka rasa iri akan tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kemiskinan tidak hanya soal pendapatan, tetapi persepsi tentang diri sendiri.
Itulah gambaran fenomena psikologi sosial rasa iri di kalangan masyarakat miskin—bukan dari sisi moral, tetapi dari sisi struktur sosial, mentalitas, dan sistem berpikir yang terbentuk sejak kecil.






