Selama standar sosial masih mengukur martabat manusia dari status profesi, kebiasaan merendahkan pekerjaan tidak akan pernah hilang. Bentuknya mungkin berubah, namun inti biasnya tetap bertahan. Budaya hierarki sudah mengakar bahkan sejak jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara.
Pengaruh Kapitalisme pada Cara Masyarakat Menilai Profesi
Tanpa disadari, banyak orang tumbuh dalam sistem nilai yang menempatkan produktivitas, pendapatan, dan simbol kesuksesan sebagai tolok ukur harga diri. Konsep ini dikenal sebagai internalized capitalism.
Dalam pola ini, seseorang dianggap bernilai jika mampu menunjukkan:
- penghasilan tinggi,
- pekerjaan formal di kantor,
- gelar pendidikan,
- akses pada simbol prestise.
Sebaliknya, profesi seperti pedagang pasar, petani, kurir, penjahit, pekerja kebersihan, dan nelayan sering dinilai rendah. Padahal tanpa peran mereka, rutinitas masyarakat tidak akan berjalan. Aneh namun nyata: kontribusi tidak selalu dihargai, simbol justru lebih bersuara.
Pengaruh Budaya Feodal Terhadap Pandangan Kerja di Indonesia
Jika menelusuri sejarah, struktur kelas sudah terbentuk sejak masa kerajaan. Ada bangsawan, ada rakyat biasa, ada kelompok pekerja yang dianggap mulia, dan ada pekerjaan yang ditempatkan pada posisi terendah.
Cara pandang itu kemudian diperkuat pada era kolonial. Orang dengan akses pendidikan atau bekerja di pemerintahan kolonial dipandang lebih berharga. Masyarakat belajar menghubungkan martabat dengan posisi, bukan kontribusi.
Setelah kemerdekaan, struktur itu memang berubah bentuk, tetapi tidak hilang. Ia melebur menjadi cara masyarakat menilai nilai seseorang dari pekerjaannya.
Mengapa Pekerjaan Dianggap Simbol Martabat Sosial
Dalam psikologi sosial, fenomena ini berkaitan dengan status hierarchy effect. Nilai manusia diukur dari posisi dalam piramida sosial. Akibatnya, pekerjaan yang:
- dekat dengan ruang berac,
- berada di kantor formal,
- berhubungan dengan gelar atau jabatan,
dianggap lebih terhormat dibanding pekerjaan fisik atau lapangan. Padahal pekerjaan seperti buruh bangunan, petani, atau kurir adalah fondasi kehidupan sehari-hari.
Di titik ini, profesi tidak lagi dilihat sebagai fungsi sosial, tapi berubah menjadi label identitas. Bahkan dalam situasi perkenalan, pertanyaan “kerja apa?” sering menjadi cara halus menentukan posisi seseorang dalam hierarki yang tidak pernah resmi namun sangat hidup.
Dampak Social Comparison Terhadap Perilaku Meremehkan Pekerjaan
Psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya melalui perbandingan. Saat kesenjangan sosial tinggi, perbandingan itu menjadi lebih agresif. Cara tercepat merasa lebih baik bukan dengan meningkatkan kemampuan, tetapi dengan menempatkan orang lain lebih rendah.
Dalam konteks pekerjaan:
- profesi dengan status sosial rendah menjadi sasaran perbandingan,
- meremehkan pekerjaan orang lain dijadikan mekanisme menjaga ego,
- identitas sosial terasa lebih aman ketika ada kelompok yang dapat dijadikan objek pembanding.
Ini menjelaskan mengapa sebagian orang merendahkan profesi lain untuk mempertahankan harga diri, meski tanpa disadari.
Akibat Standar Sukses Berbasis Materi Terhadap Mental Masyarakat
Masyarakat modern sering memahami kesuksesan dalam kategori menang–kalah. Mereka yang tidak memenuhi standar sosial seperti gaji besar, kantor mewah, atau jabatan prestisius dianggap kurang berhasil meskipun pekerjaan mereka penting.
Tekanan ini menciptakan:
- rasa malu,
- rasa tidak berharga,
- ketakutan dinilai gagal oleh lingkungan.
Banyak individu akhirnya mengejar pekerjaan yang terlihat bagus bukan karena minat, tetapi karena takut dihakimi. Di sini struktur sosial tidak hanya membentuk cara pikir, tapi juga menekan psikologis masyarakat secara kolektif.
Kenapa Masyarakat Sulit Menghargai Semua Jenis Pekerjaan
Di balik sikap merendahkan profesi, ada pola budaya yang diwariskan:
- Hierarki sosial feodal yang menempatkan sebagian pekerjaan sebagai simbol kehormatan.
- Internalized capitalism yang menjadikan produktivitas dan gaji sebagai ukuran nilai manusia.
- Kebutuhan psikologis untuk merasa lebih tinggi demi menutupi rasa tidak aman.
- Bahasa dan kebiasaan sehari-hari yang secara halus menormalisasi perendahan profesi.
Semua hal tersebut membentuk cara masyarakat memandang martabat bukan dari kontribusi, tetapi dari status.
Pentingnya Menghargai Semua Pekerjaan dalam Masyarakat Modern
Jika dilihat dari fungsi sosial, pekerjaan seperti petani, nelayan, atau pekerja kebersihan memiliki kontribusi vital. Namun penghargaan sosial tidak mengikuti logika kontribusi; ia mengikuti logika simbol.
Ketika simbol mengalahkan fungsi, masyarakat terjebak dalam bias bahwa profesi tertentu lebih layak dihormati meskipun kontribusinya kecil, dan sebaliknya profesi penting justru diremehkan.
Cara Menghilangkan Budaya Meremehkan Pekerjaan di Masyarakat
Fenomena meremehkan pekerjaan orang lain bukan muncul tiba-tiba. Ia terbentuk dari struktur psikologis, budaya hierarki, dan tekanan sosial yang berjalan berabad-abad. Selama pekerjaan terus dijadikan ukuran martabat dan selama manusia merasa perlu membandingkan diri untuk merasa berharga, budaya merendahkan akan tetap bertahan.
Pertanyaannya kini bukan tentang profesi mana yang tinggi atau rendah, tetapi apakah kita siap mengubah cara menilai manusia dari status menjadi kontribusi?






