Fenomena Sound Horeg di Indonesia: Antara Hiburan Rakyat dan Ancaman Sosial

Opini48 Views

Di berbagai daerah Indonesia, fenomena sound horeg semakin sering ditemui. Acara yang menampilkan sound system berukuran besar dengan dentuman bass ekstrem ini kerap hadir dalam karnaval, arak-arakan, hingga festival jalanan.

Ketika Dentuman Bass Mengganggu Ruang Pribadi Masyarakat

Bagi sebagian orang, sound horeg dianggap sebagai hiburan meriah yang murah dan mudah diakses. Namun, bagi masyarakat yang terdampak langsung, kehadirannya justru memicu keresahan serius.

Bayangkan sebuah lingkungan permukiman yang seharusnya menjadi tempat istirahat, berubah menjadi area dengan getaran hebat, kaca bergetar, anak-anak menangis, dan lansia kesulitan tidur. Dalam banyak kasus, warga tidak memiliki kuasa untuk menolak karena acara tersebut sudah terlanjur berlangsung di ruang publik.

Asal-Usul Sound Horeg sebagai Evolusi Hiburan Rakyat

Sound horeg tidak muncul secara tiba-tiba. Fenomena ini dapat ditelusuri dari budaya hiburan organ tunggal yang populer pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, musik dengan sound system sederhana menjadi pengiring acara hajatan dan pernikahan.

Perkembangan teknologi audio dan meningkatnya budaya pamer di media sosial kemudian melahirkan sound horeg dengan skala yang jauh lebih besar. Speaker berukuran raksasa, truk pengangkut peralatan, dan kompetisi tidak resmi antar komunitas sound system menjadi ciri khasnya. Video unjuk kekuatan suara dan ukuran speaker kerap viral di TikTok, Instagram, dan YouTube.

Media Sosial dan Budaya Pamer Sound System

Popularitas sound horeg tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Konten yang menampilkan dentuman bass ekstrem, getaran jalanan, hingga reaksi penonton dengan cepat menarik perhatian warganet. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi ajang unjuk kekuatan dan gengsi antar komunitas sound system.

Sayangnya, fokus pada viralitas sering mengabaikan dampak nyata di lapangan. Kerusakan fasilitas umum, rumah warga, hingga gangguan kesehatan jarang menjadi sorotan utama dalam konten yang beredar.

Minimnya Alternatif Hiburan di Daerah

Di banyak desa dan wilayah pinggiran kota, akses terhadap hiburan formal seperti bioskop, konser musik resmi, atau pusat rekreasi sangat terbatas. Sound horeg akhirnya menjadi alternatif hiburan yang mudah dihadirkan tanpa biaya mahal.

Bagi masyarakat setempat, acara ini menjadi ajang berkumpul, bersosialisasi, dan melepas penat. Namun, tanpa regulasi yang jelas, hiburan tersebut berubah menjadi sumber konflik sosial.

Kerusakan Infrastruktur Akibat Sound Horeg

Fenomena sound horeg tidak hanya menimbulkan polusi suara, tetapi juga kerusakan fisik yang nyata. Beberapa kasus di Jawa Timur menunjukkan bagaimana truk pembawa sound system merusak atap warung, tembok pembatas jalan, hingga fasilitas umum lainnya demi melancarkan jalur acara.

Salah satu kasus yang sempat viral memperlihatkan atap warung warga dirusak karena menghalangi jalur truk sound system. Tidak ada kompensasi yang diberikan, dan pemilik warung harus menanggung kerugian sendiri. Situasi ini mencerminkan ketimpangan kekuatan antara warga kecil dan rombongan besar penyelenggara acara.

Dampak Ekonomi dan Beban Pemerintah Daerah

Kerusakan akibat sound horeg tidak berhenti pada kerugian individu. Biaya perbaikan jalan, pembatas, dan fasilitas umum sering kali dibebankan kepada pemerintah daerah. Artinya, dana publik dan pajak masyarakat digunakan untuk menutup dampak dari hiburan yang tidak terkontrol.

Jika fenomena ini terus dibiarkan, potensi kerugian ekonomi akan semakin besar dan berulang.

Polusi Suara dan Risiko Kesehatan Jangka Panjang

Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kebisingan yang aman berada di bawah 70 desibel. Sound horeg kerap menghasilkan suara hingga 100–120 desibel, setara dengan suara mesin jet.

Paparan kebisingan ekstrem ini berisiko menyebabkan gangguan pendengaran, sakit kepala, stres, gangguan tidur, hingga masalah kesehatan mental. Dampaknya semakin parah ketika acara digelar hingga larut malam atau dini hari, saat tubuh manusia membutuhkan waktu pemulihan.

Anak-Anak dan Lansia sebagai Kelompok Paling Rentan

Kelompok yang paling terdampak dari polusi suara sound horeg adalah anak-anak, lansia, dan orang sakit. Gangguan tidur dan stres berkelanjutan dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.

Ironisnya, kelompok ini justru tidak memiliki suara untuk menolak atau menghentikan acara yang berlangsung di lingkungan mereka sendiri.

Acara Tanpa Izin dan Zona Abu-Abu Regulasi

Banyak acara sound horeg digelar tanpa izin resmi. Panitia sering mengandalkan izin lisan dari perangkat desa atau tokoh setempat tanpa dokumen hukum yang sah. Akibatnya, tidak ada pengaturan mengenai batas waktu, volume suara, maupun standar keselamatan.

Ketika konflik terjadi, tidak ada pihak yang benar-benar bertanggung jawab. Aparat desa pun sering kali tidak memiliki dasar hukum untuk bertindak tegas.

Konflik Sosial Akibat Penolakan Warga

Ketidakhadiran regulasi yang jelas memicu konflik horizontal. Beberapa video viral menunjukkan warga yang mencoba menghentikan acara dengan mencabut kabel sound system, yang berujung pada keributan fisik.

Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya relasi sosial ketika hiburan tidak diimbangi dengan kesadaran dan aturan.

Benturan Antara Budaya Tradisional dan Modernitas

Sound horeg juga mencerminkan pergeseran budaya hiburan masyarakat. Di banyak daerah, kesenian tradisional seperti wayang kulit, gamelan, atau reog mulai tersingkir oleh dentuman bass modern.

Padahal, hiburan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sarana edukasi, spiritual, dan pelestarian identitas budaya.

Dua Wajah Sound Horeg dalam Kehidupan Sosial

Di satu sisi, sound horeg menunjukkan kreativitas, solidaritas komunitas, dan kebutuhan akan hiburan. Di sisi lain, fenomena ini mengungkap rendahnya kesadaran sosial, lemahnya penegakan hukum, dan minimnya empati terhadap lingkungan sekitar.

Tanpa pengelolaan yang baik, sound horeg berpotensi menjadi simbol konflik antara hak berekspresi dan hak atas rasa aman serta kenyamanan.

Perlunya Regulasi dan Kesadaran Kolektif

Solusi dari fenomena sound horeg tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Pemerintah daerah perlu menyusun regulasi khusus yang mengatur izin, batas kebisingan, jam operasional, dan tanggung jawab ganti rugi.

Di sisi lain, komunitas sound system juga perlu meningkatkan kesadaran bahwa hiburan tidak boleh merugikan masyarakat luas. Hiburan yang sehat adalah hiburan yang menghormati ruang hidup orang lain.

Hiburan yang Seharusnya Tidak Menjadi Ancaman

Sound horeg pada dasarnya lahir dari kebutuhan manusia untuk bersenang-senang dan bersosialisasi. Namun, tanpa aturan dan empati, hiburan dapat berubah menjadi ancaman bagi kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan publik.

Fenomena ini menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi dan budaya populer harus diiringi dengan kedewasaan sosial. Hanya dengan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab bersama, ruang hidup masyarakat dapat tetap aman dan harmonis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *