Dampak Psikologi Sosial di Balik Fenomena Reviewer dan Cancel Culture Kuliner

Edukasi35 Views

Lucunya dunia kuliner sekarang bukan lagi ditentukan oleh rasa, tapi oleh siapa yang paling viral di media sosial. Satu video “review jujur” bisa bikin antrean mengular, tapi juga bisa mengosongkan kursi restoran dalam semalam. Inilah yang bikin fenomena Reviewer jadi bahan diskusi panas di jagat kuliner Indonesia.

Bukan Soal Enak atau Tidak, Tapi Siapa yang Punya Suara Terkeras

Banyak yang salut karena dia dianggap berani, tapi ada juga yang melihatnya sebagai simbol dari kekuatan yang terlalu besar tanpa kendali. Apakah benar setiap review-nya mencerminkan kebenaran? Atau hanya bias pribadi yang disulut oleh algoritma yang doyan drama?

Kekuatan Review Negatif: Saat Algoritma Jadi Hakim

Di era media sosial, algoritma lebih menyukai konten yang bikin emosi. Kritik pedas dan ekspresi dramatis jauh lebih “laku” dibanding ulasan yang berimbang. Ketika satu video reviewer beredar, efeknya seperti domino — rating restoran anjlok, komentar pedas membanjir, dan pelanggan mendadak hilang.

Yang lebih menakutkan? Semua itu bisa terjadi tanpa fakta diverifikasi. Inilah bentuk cancel culture kuliner, di mana bisnis bisa hancur tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.

Fenomena “Halo Effect” dan “Horns Effect” di Dunia Kuliner Viral

Dalam psikologi sosial, ada dua efek yang menjelaskan fenomena ini: Halo Effect dan Horns Effect.

Halo Effect bikin publik percaya penuh pada seseorang hanya karena citra positifnya. Reviewer dianggap jujur, otomatis semua ucapannya diterima mentah-mentah.

Horns Effect kebalikannya — begitu restoran dicap jelek, semua hal baiknya ikut tenggelam.

Dampaknya? Industri kuliner jadi nggak seimbang. Restoran kecil yang bertahun-tahun bangun reputasi bisa runtuh hanya karena satu review. Sementara restoran yang “disukai influencer” malah naik daun meskipun kualitasnya biasa saja.

Negativity Bias: Saat Ketakutan Lebih Laku daripada Fakta

Otak manusia punya kecenderungan aneh: lebih cepat percaya berita negatif. Itulah yang disebut negativity bias.

Ketika penonton melihat video yang menampilkan dapur kotor atau makanan basi, mereka langsung bereaksi — bukan dengan logika, tapi dengan rasa takut. Lama-lama ini menciptakan paranoia kolektif: orang takut makan di tempat baru, curiga semua restoran jorok, dan mulai “berburu” kesalahan di tempat makan lain.

Lucunya, rasa takut ini sering kali bukan karena fakta, tapi karena bagaimana video itu dikemas. Ketakutan ternyata lebih “menjual” dibanding edukasi.

Ketika Review Jadi Hiburan, Objektivitas Hilang

Dulu, food review adalah bentuk apresiasi terhadap seni memasak. Sekarang, banyak yang berubah jadi tontonan dramatis penuh emosi. Review jujur berubah fungsi jadi hiburan — makin tajam kata-katanya, makin tinggi engagement-nya.

Masalahnya, dampak dari konten seperti ini nyata: pemilik restoran kehilangan penghasilan, karyawan terancam PHK, dan mental mereka terguncang. Sementara si influencer? Cukup bilang “maaf ya guys” di story yang hilang dalam 24 jam.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Influencer kuliner punya kekuasaan besar, tapi tanggung jawab mereka nyaris tak terlihat. Kalau jurnalis salah tulis berita, ada dewan pers yang bisa menegur. Tapi kalau reviewer salah menilai restoran? Nggak ada aturan main yang jelas.

Mereka bebas menghakimi, sementara yang kena dampak cuma bisa diam. Akhirnya dunia kuliner berubah jadi arena survival — siapa yang kuat di algoritma, dialah yang bertahan.

Akhirnya, Ini Bukan Tentang Makanan Lagi

Di ujung semua drama ini, kita sadar satu hal: yang menentukan hidup mati bisnis kuliner hari ini bukan rasa, bukan pelayanan, tapi siapa yang paling viral di internet.

Dan ketika opini seseorang bisa menjatuhkan kerja keras puluhan orang, mungkin sudah waktunya kita berhenti menelan review mentah-mentah. Karena kalau kekuasaan besar tidak diimbangi dengan etika, maka “review jujur” bisa berubah jadi senjata yang mematikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *