6 Kebiasaan yang Menghambat Keuntungan Investasi Saham

Investasi79 Views

Kalau kalian pernah bikin kesalahan dalam investasi, santai aja—kalian nggak sendirian kok. Banyak orang juga ngalamin hal yang sama, terutama saat awal-awal coba-coba investasi saham.

Investasi itu kayak perjalanan panjang yang penuh proses belajar. butuh bertahun-tahun buat belajar dari kesalahan, dan akhirnya, keuntungan investasi mulai naik perlahan.

Kebiasaan Buruk Investasi Saham

Nah, di sini Navsia mau berbagi soal kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar bisa bikin kalian gagal dapat cuan maksimal dari investasi saham. Yuk, kita bahas!

Pernah denger istilah dari Peter Lynch, “Cutting the flowers and watering the weeds”? Artinya, banyak orang malah buru-buru jual saham yang naik (mengunci keuntungan kecil) tapi tetap simpan saham yang lagi turun dengan harapan bisa balik.

Kesalahan Umum Investor Saham

Padahal, bertahan pada saham yang performanya buruk malah bikin portfolio kita tersendat. Contoh kasus, dulu beli saham Aset Indonusa yang lagi anjlok 80% dari harga tertingginya.

Waktu itu yakin banget kalau dia bakal pulih, tapi ternyata malah makin turun. Akhirnya terpaksa jual dengan kerugian lumayan besar.

Intinya, kalau saham udah nggak punya prospek bagus, jangan takut buat “cut loss” alias jual rugi. Kadang langkah berani ini bisa nyelamatin dari kerugian yang lebih besar di masa depan.

Nggak Punya Mental Kuat Menghadapi Fluktuasi Pasar

Salah satu alasan banyak investor baru “nyerah” di dunia saham itu karena nggak punya “stomach” alias ketahanan mental buat hadapin naik-turun harga.

Banyak orang ngalamin banget ini waktu Maret 2020, saat hampir semua saham merah. Waktu itu, banyak orang beli saham BBNI di harga yang dipikir udah murah banget, eh malah turun lagi.

Kalau langsung jual waktu itu, mungkin nggak akan ngerasain kenaikan hingga 100% dua tahun kemudian. Kuncinya adalah tetap tenang dan tahan saat pasar lagi jelek. Semua orang bisa belajar analisis saham, tapi nggak semua orang punya mental buat tahan fluktuasi pasar yang bikin deg-degan.

Berusaha Beli di Harga Terendah dan Jual di Puncak

Siapa sih yang nggak mau untung besar dengan beli saham di harga paling rendah dan jual di harga paling tinggi? Tapi pada kenyataannya, susah banget buat tahu kapan harga saham benar-benar berada di titik paling rendah atau paling tinggi

Dulu sering banget nunggu saham turun lebih rendah lagi, eh malah kelewat momen buat beli karena harganya naik terus.

Pelajaran dari investor legendaris John Templeton adalah, jangan fokus cari harga paling bawah atau atas, tapi carilah saham yang harganya udah diskon besar, sekitar 35-50% dari nilai wajarnya. Dengan cara ini, investasi bisa lebih tenang tanpa khawatir kelewat momen.

Terlalu Fokus pada Rasio Keuangan

Dulu sering banget cuma lihat angka-angka rasio keuangan kayak P/E ratio atau ROE buat menentukan saham bagus atau nggaknya. Banyak orang inget banget waktu beli saham Lippo Cikarang tahun 2016 karena rasio keuangannya keliatan bagus.

Tapi ternyata, angka yang bagus di masa lalu nggak jamin bisnisnya bakal terus bagus. Masalah besar mulai muncul, dan harga sahamnya pun anjlok. Jangan terlalu terobsesi sama rasio keuangan; itu cuma alat bantu. Kalian harus lihat juga kondisi bisnis dan manajemennya buat dapet gambaran lengkap.

Overdiversifikasi alias Punya Terlalu Banyak Saham

Sempat terpikir kalau punya banyak saham itu lebih aman karena risikonya tersebar. bahkan pernah pegang sekitar 15 saham di portfolio, tapi ternyata malah bikin susah fokus dan ngilangin potensi cuan gede dari saham yang performanya bagus.

Setelah sadar, sekarang lebih suka fokus pada 3-5 saham yang berkualitas. Seperti kata Warren Buffet, “If you find three wonderful businesses in your life, you will be very rich.” Dengan punya sedikit saham, kita bisa lebih fokus pantau perkembangan dan prospek setiap saham secara mendalam.

Terlalu Reaktif Sama Berita dan Clickbait

Di era sekarang, tiap hari pasti ada aja berita heboh tentang ekonomi atau saham yang bikin kita pengen buru-buru bertindak. Mulai dari berita tentang IHSG yang anjlok gara-gara suku bunga naik, sampai konflik internasional yang bikin pasar goyang.

Kalau kita terus-terusan reaktif sama berita-berita kayak gini, kita bisa tergoda buat ambil keputusan investasi cuma karena berita panas, tanpa riset mendalam.

Ingat, berita hari ini cuma noise buat jangka panjang. jangan gampang tergoda sama hype atau headline yang bombastis. Kuncinya adalah konsisten, disiplin, dan tetap riset sebelum ambil keputusan investasi.

Itulah enam kebiasaan yang tanpa sadar sering bikin kita gagal dapat cuan maksimal dari investasi saham. Semoga pembahasan ini bisa membantu kalian buat lebih hati-hati dalam investasi dan bisa belajar dari pengalaman. Yuk, belajar dan mulai investasi dengan bijak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *