Kenapa Rakyat Miskin Tak Peduli Rupiah Melemah? Ini Jawaban Sebenarnya

Finansial42 Views

Yang salah bukan rakyatnya, tapi sistemnya. Apatisme masyarakat terhadap berita-berita ekonomi makro seperti inflasi, pelemahan rupiah, atau IHSG merah, bukan muncul karena mereka tidak mampu memahami. Tapi karena mereka tidak pernah diajak merasa punya hubungan langsung dengan semua itu. Buat mereka, semua istilah ekonomi itu kayak drama elit yang gak pernah menyentuh piring makan di rumah mereka. Yang mereka tahu: harga sembako naik, listrik nunggak, anak belum bayar SPP. Itu aja udah cukup bikin stres, ngapain mikirin suku bunga?

Ketika Ekonomi Cuma Jadi Milik Kalangan Atas

Pernah lihat berita soal rupiah melemah, terus langsung mikir, “terus kenapa?” Nah, ternyata bukan cuma satu dua orang yang ngerasa kayak gitu. Jutaan rakyat kecil di Indonesia ngerasain hal yang sama. Berita ekonomi nasional terasa terlalu asing, terlalu jauh dari kenyataan hidup mereka. Sementara di media, istilah seperti defisit APBN, kenaikan suku bunga, dan IHSG turun terus diglorifikasi, seolah semua orang punya saham.

Padahal, di kampung-kampung dan kota kecil, yang lebih penting itu tahu beras lagi naik atau enggak. Minyak goreng masih susah dicari atau udah balik normal. Bahasa ekonomi di negeri ini terlalu tinggi, terlalu menara gading, sementara rakyat kecil berdiri di lantai tanah.

Fenomena Alienasi Ekonomi: Saat Negara Berbicara Tapi Rakyat Tak Dengar

Fenomena ini punya nama keren: alienasi sosial-ekonomi. Sebuah kondisi ketika masyarakat merasa terputus dari sistem yang seharusnya mereka jadi bagiannya. Dan ini bukan terjadi tiba-tiba, tapi hasil desain sistemik. Informasi ekonomi tidak pernah dijembatani, tidak pernah disampaikan dalam bahasa sehari-hari. Akhirnya muncul jarak—bukan hanya secara kelas, tapi juga secara psikologis. Negara sibuk bahas stabilitas makro, rakyat sibuk mikirin gimana beli susu anak.

Sikap masa bodoh terhadap isu ekonomi bukan bawaan lahir, tapi hasil pengalaman panjang.

Rakyat miskin sudah terlalu sering dijanjikan perubahan, tapi tidak pernah benar-benar dilibatkan. Setiap kampanye datang dengan janji-janji ekonomi, tapi yang terjadi hanya headline tanpa makna. Ketika suara mereka tidak dianggap, maka logis kalau mereka berhenti bicara. Ketika harga naik lebih dulu dibanding pengumuman inflasi, maka jelas rasa percaya hilang.

Hierarki Kebutuhan: Mana Mungkin Mikir Dolar Kalau Nasi Aja Susah?

Ini soal prioritas. Orang yang tiap hari masih mikirin “besok makan pakai apa” nggak mungkin bisa fokus ke nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hierarki kebutuhan ala Maslow udah menjelaskan ini dari dulu. Kebutuhan dasar selalu datang lebih dulu. Sementara ekonomi makro adalah konsep yang abstrak dan seringkali tidak langsung terasa. Ketika hidup serba mendesak, orang akan fokus pada hal yang konkret: uang, utang, makan.

Pendidikan Ekonomi: Gagal Paham dari Bangku Sekolah

Salah satu akar masalahnya ada di ruang kelas. Pelajaran ekonomi di sekolah sering cuma berhenti di teori permintaan-penawaran, kurva elastisitas, atau definisi inflasi yang kaku. Nggak pernah nyambung ke kehidupan sehari-hari. Nggak pernah diajarin gimana ngatur uang bulanan, atau kenapa penting ngerti pajak. Akibatnya? Ketika dewasa, banyak yang ngerasa berita ekonomi itu rumit dan nggak penting. Padahal, semua keputusan mereka sehari-hari juga bagian dari ekonomi.

Dari Lelah Menunggu, Jadi Lupa Berharap

Salah satu efek paling menyedihkan dari kondisi ini adalah learned helplessness — kondisi di mana seseorang berhenti berusaha karena terlalu sering gagal. Rakyat kecil terus berjuang, tapi tidak pernah diangkat. Usaha kecil susah berkembang, kerja keras tidak naik kelas. Lama-lama muncul rasa “buat apa berusaha?”. Bukan malas, tapi mentalnya sudah luka.

Anak-anak pun tumbuh dengan pandangan pesimis. Sekolah dianggap tidak penting karena dunia kerja pun penuh ketimpangan. Akhirnya lahirlah generasi yang diam karena tidak tahu harus berharap ke siapa.

Jurang Sosial: Ekonomi Jadi Panggung Elit, Rakyat Jadi Penonton

Saat satu kelompok sibuk bahas ekspansi bisnis, obligasi, dan saham, kelompok lain hanya bisa mikirin tagihan listrik dan cicilan galon. Jarak antara dua dunia ini makin melebar. Yang satu nonton CNN, yang satu nunggu berita harga di pasar. Polarisasi ini bikin banyak orang merasa dunia ekonomi bukan milik mereka. Bahkan mungkin, mereka benci dunia itu karena hanya menyuguhkan janji tanpa solusi.

Selama narasi ekonomi terus dibungkus rumit dan hanya bicara ke kalangan tertentu, selama rakyat miskin tidak diajak memahami dengan cara yang sederhana dan relevan, maka jangan heran kalau mereka terus merasa asing.

Apatisme bukanlah bentuk kemalasan. Itu hasil dari pengalaman panjang ditinggalkan. Kalau sistem ingin berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari cara bicara. Ekonomi bukan milik investor saja, tapi milik semua yang bangun pagi buat cari makan.

Kalau hari ini banyak yang cuek dengan ekonomi nasional, itu bukan karena mereka tak mampu mengerti. Tapi karena sistem terlalu lama berbicara tanpa mendengar. Dan percayalah, ketika rakyat diberi ruang dan bahasa yang nyambung, mereka juga ingin peduli. Hanya saja, mereka butuh diajak, bukan disuruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *