Kalau jalanan makin penuh jaket hijau, bukan berarti ekonomi lagi bagus-bagusnya. Justru itu bisa jadi pertanda darurat. Satu-satunya alasan banyak anak muda narik ojol bukan karena itu impian masa kecil mereka, tapi karena pilihan lain udah disegel.
Yang berkembang cuma sektor informal yang fleksibel, tapi rapuh. Yang katanya “inovatif”, padahal cuma jadi jalan tikus dari sistem ketenagakerjaan yang macet total.
Lulusan S1, Jaket Ojol, dan Jebakan Statistik Palsu
Di atas kertas, pengangguran turun. Tapi di bawah helm itu, ada sarjana, ada mantan supervisor, bahkan ada orang tua tunggal yang dulu kerja di kantor dan sekarang ngadu nasib di jalan. Masalahnya bukan di orangnya, tapi sistemnya. Begitu mereka dapet penghasilan meskipun receh dari aplikasi, negara langsung catat: “pekerja”.
Enggak peduli upahnya cukup buat hidup atau enggak, yang penting grafik pengangguran kelihatan turun. Statistik yang indah, padahal kenyataannya buram. Jadi jangan heran kalau narasi ekonomi membaik itu enggak nyambung sama realita di lapangan.
Syarat Kerja Aneh, Koneksi Main, dan Jalan Buntu Bernama HRD
Ada lowongan kerja minta fresh graduate, tapi wajib pengalaman dua tahun. Ada posisi staf entry level, tapi penguasaan software-nya minta level dewa. Semua itu belum seberapa dibanding satu hal yang enggak pernah ditulis di iklan kerja: relasi.
Proses seleksi tetap dijalanin. Tapi kadang cuma formalitas. Karena sejak awal, posisi itu udah “dipegang orang dalam”. Di sinilah banyak pencari kerja nyerah. Bukan karena malas, tapi karena sistemnya enggak masuk akal. Dan ketika semua jalur formal mentok, ojol kelihatan seperti satu-satunya pintu yang terbuka.
Aplikasi Ojol: Penyelamat Sementara atau Penjebak Jangka Panjang?
Buat yang kehilangan kerja, atau yang enggak pernah sempat kerja sama sekali, jadi mitra ojol itu terasa realistis. Enggak butuh surat lamaran, enggak harus ikut seleksi lima tahap. Asal punya motor, SIM, dan niat, langsung jalan.
Tapi begitu masuk, mereka sadar: enggak ada BPJS, enggak ada pensiun, dan penghasilan harian bisa berubah tergantung cuaca, tarif promo, dan algoritma. Istilah “mitra” dipakai biar perusahaan enggak wajib kasih jaminan. Semua resiko ditanggung driver. Negara diem, platform senang, pengemudi terjepit.
Sektor Informal Bukan Solusi, Tapi Alarm Keras
Ekonomi digital sering dibungkus sebagai bukti kemajuan. Padahal, yang terjadi justru pergeseran darurat. Platform digital bukan hadir karena kepedulian sosial. Mereka cuma isi ruang kosong yang ditinggal negara.
Dan selama negara enggak hadir ngasih perlindungan sosial, makin banyak orang yang nyemplung ke situasi penuh resiko. Ojol, serabutan, jualan online—semua itu jadi pelampung darurat buat rakyat yang enggak dikasih jaring.
Buat Apa Bonus Demografi Kalau Sistemnya Gagal?
Semua ngomongin potensi anak muda. Tapi kalau tiap tahun lulusan baru dibiarin keluyuran cari kerja yang enggak ada, yang dibangun bukan masa depan cerah, tapi gunung es frustrasi. Lama-lama meledak.
Sementara itu, mereka yang kerja pun enggak aman. Usia lewat 30, posisi makin susah dicari. Kualifikasi makin tinggi, tapi tawaran makin rendah. Semua akhirnya ngumpul di tempat yang sama: pinggir jalan, nunggu orderan.
Kalau ada yang masih merasa sistem kerja kita baik-baik saja, coba tengok ke lampu merah terdekat. Bisa jadi, sarjana di balik helm itu pernah duduk satu bangku sama kita dulu.






