Bahaya Pinjol dan Mentalitas “Toh Semua Juga Galbay” — Jerat Finansial yang Dinormalisasi

Finansial41 Views

Di balik wajah-wajah tenang para pekerja informal, ibu rumah tangga, sampai buruh harian yang tampak biasa saja di jalanan kota, tersimpan kecemasan yang terus menggerogoti: tagihan pinjaman online yang tak kunjung lunas. Yang lebih tragis lagi, bukan cuma utangnya yang membengkak, tapi juga munculnya cara pikir yang pelan-pelan meracuni: “ah, semua orang juga galbay.”

Apa jadinya kalau kegagalan finansial bukan lagi dianggap sebagai peringatan, tapi sebagai bagian dari hidup yang wajar?

Fenomena Gagal Bayar Pinjol dan Bahaya yang Dinormalisasi

Kalau ditarik mundur, banyak orang miskin tidak pernah benar-benar ingin pinjam uang ke pinjol. Mereka masuk bukan karena tergoda gaya hidup, tapi karena didesak kebutuhan: bayar kontrakan, beli susu anak, atau listrik yang nyaris diputus. Dalam kondisi darurat seperti itu, rasionalitas langsung terpental. Yang penting: hari ini bisa lewat dulu. Besok? Nanti saja dipikirkan.

Sayangnya, sistem pinjaman online justru menyambut dengan tangan terbuka. Proses cepat, cair tanpa syarat ribet, bahkan bisa tanpa BI checking. Tapi semua kemudahan itu bukanlah pertolongan, melainkan pintu masuk ke dalam jebakan yang dalam.

Sistem yang Dirancang untuk Menjerat, Bukan Menolong

Banyak pinjol—terutama yang ilegal—tidak peduli siapa yang meminjam atau untuk keperluan apa. Mereka hanya peduli satu hal: bunga terus berjalan. Dan ironisnya, keuntungan justru datang dari peminjam yang kesulitan bayar. Maka, tidak mengherankan kalau denda, penalti, bahkan intimidasi menjadi “metode bisnis”.

Begitu satu pinjaman disetujui, peminjam justru disodori tawaran dari aplikasi lain. Inilah jaringan yang sengaja disusun untuk mendorong peminjam menggali lubang demi menutup lubang lain—dan itu terus berulang.

Gali Lubang, Tutup Neraka

Awalnya cuma butuh Rp500 ribu. Tapi karena satu pinjaman tertutup oleh pinjaman berikutnya, utang bisa melonjak jadi Rp10 juta dalam hitungan minggu. Dan ketika pemasukan tetap mentok di Rp2 juta sebulan, galbay bukan lagi pilihan, tapi satu-satunya yang tersisa.

Yang menyedihkan, banyak peminjam bahkan tidak lagi tahu berapa total utang yang dimiliki. Hidup mereka berputar di antara notifikasi, ancaman WA, panggilan tak henti dari debt collector, dan rasa malu yang semakin dalam.

Ketika Gagal Bayar Jadi Budaya Baru

Di tengah tekanan ini, lahirlah mentalitas baru: “toh semua juga galbay.” Kalimat yang awalnya jadi pelarian dari rasa frustasi, kini berubah menjadi pembenaran kolektif. Gagal bayar bukan lagi dianggap sebagai aib. Bahkan dianggap sebagai bagian dari “realita zaman sekarang.”

Media sosial pun jadi tempat bercerita tentang tagihan yang memburu, data yang disebar, atau rasa lelah karena dikejar-kejar. Lama-lama, ketakutan terhadap risiko galbay mulai menguap. Dan ini membuka jalan bagi lebih banyak korban baru.

Tidak ada dorongan untuk edukasi literasi keuangan. Dan tidak ada perlawanan terhadap perlakuan tidak manusiawi dari sistem yang semestinya bisa lebih beradab.

Satu Keputusan Kecil, Jerat Seumur Hidup

Banyak yang awalnya hanya ingin lewat satu krisis kecil. Tapi dari situlah kehidupan mereka mulai berputar dalam siklus yang tak pernah berhenti. Ketika aplikasi pinjol tak lagi menyetujui pinjaman baru, mereka beralih ke rentenir atau pinjam ke kerabat dengan cerita yang disembunyikan. Kebohongan tumbuh, rasa percaya hilang, dan hubungan sosial rusak perlahan.

Siklus ini bukan cuma menghancurkan finansial, tapi juga menghantam kesehatan mental dan martabat seseorang. Bahkan ketika mereka memutuskan berhenti bayar karena sudah tak sanggup lagi, reputasi rusak, nama diblacklist, dan mimpi masa depan menguap begitu saja.

Gagal bayar bukan hal sepele. Itu bukan sekadar statistik di laporan pinjol atau kisah viral di media sosial. Itu luka kolektif yang terus bertambah di tubuh masyarakat yang tertindas.

Dan selama kita menganggapnya “biasa”, maka sistem yang menjerat akan terus berjalan. Yang miskin tetap dijadikan pasar. Yang terdesak tetap dijadikan target. Dan masa depan generasi berikutnya pun ikut terseret—membawa pola pikir bahwa hidup dengan utang dan gagal bayar adalah sesuatu yang normal.

Padahal tidak seharusnya seperti itu. Sudah waktunya mengubah pola pikir, membongkar sistem yang tidak adil, dan membangun solidaritas agar tidak ada lagi yang masuk ke jerat pinjol karena merasa tidak punya pilihan. Karena setiap orang sebenarnya pantas punya ruang untuk bernapas, bukan cuma bertahan di antara tanggal jatuh tempo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *