Masyarakat Semakin Religius Tapi Semakin Intoleran? Ini Akar Masalahnya

Edukasi27 Views

Meski tampak religius di permukaan—dengan masjid baru bermunculan, kajian menjamur, dan kutipan ayat berseliweran di media sosial—fakta di lapangan justru menunjukan gejala yang bikin miris. Intoleransi makin merebak. Bukan cuma antaragama, tapi juga di internal keyakinan yang sama. Ini bukan soal ajaran mana yang paling benar, tapi soal cara kita memahami dan menjalankan agama itu sendiri.

Agama Dijadikan Atribut Sosial

Fenomena pencitraan religius makin kuat terasa. Banyak yang lebih peduli pada “tampilan” taat dibanding makna sebenarnya. Pakaian dianggap ukuran keimanan, jumlah kajian yang diikuti dijadikan tolak ukur kedekatan dengan Tuhan. Tapi bagaimana seseorang bersikap di kehidupan nyata—dalam bisnis, dalam bermasyarakat—sering kali diabaikan.

Yang berkembang adalah obsesi terhadap simbol, bukan substansi. Ukuran kesalehan jadi semacam checklist: rajin salat, posting kutipan ayat, pakai istilah Arab, tapi lupa bahwa inti dari semua itu adalah akhlak dan empati.

Awalnya Terlihat Positif, Tapi…

Kalau kita lihat sepintas, sepertinya kehidupan beragama di Indonesia lagi mengalami kemajuan pesat. Tempat ibadah bertambah, konten dakwah viral, anak muda pun mulai tertarik ikut kajian. Tapi anehnya, di balik itu semua, muncul juga sisi gelap: sikap mudah menuduh, gampang tersinggung, bahkan munculnya kelompok-kelompok eksklusif yang menolak keberagaman.

Penyebab Masyarakat Semakin Intoleran Meski Religius

Religiusitas yang tumbuh di tengah masyarakat ternyata lebih bersifat permukaan. Seolah-olah menjadi alat pembeda, bukan alat pemersatu. Agama dijadikan identitas kelompok, bukan jalan menuju kedewasaan spiritual.

Ketika agama lebih dijalankan sebagai simbol sosial daripada pencarian makna hidup, maka mudah sekali menyimpulkan orang lain salah hanya karena cara ibadahnya beda. Yang penting “seperti kami”, kalau tidak, ya “kalian salah”.

Fanatisme Tumbuh dari Ketakutan

Fanatisme enggak tumbuh karena kedalaman ilmu, tapi dari rasa aman ketika menjadi bagian dari kelompok besar. Orang merasa lebih berani bersikap karena ada yang membackup. Tapi dari situ juga muncul masalah: siapa pun yang beda pandangan akan otomatis dicurigai, dimusuhi, bahkan dianggap sesat.

Konsep “kami dan mereka” makin menguat. Padahal, ajaran agama manapun selalu menekankan keadilan, sabar, dan kasih sayang. Tapi nilai-nilai itu tenggelam di balik semangat menjaga “wilayah kebenaran”.

Bahaya Politisasi Agama di Tahun Politik

Satu hal yang makin terasa adalah bagaimana agama dijadikan alat politik. Umat bukan lagi dianggap individu yang butuh pencerahan, tapi jadi pasar. Pasar yang bisa diarahkan, digerakkan, bahkan dijadikan tameng.

Tokoh agama mendadak muncul hanya karena viral. Ilmu nomor dua, yang penting bisa menggerakkan massa. Semakin keras, semakin lantang, semakin dipercaya. Media sosial memperparah ini. Algoritma lebih senang yang provokatif. Akibatnya, narasi damai dan toleransi makin tenggelam.

Cara Menyikapi Keberagaman Dalam Masyarakat Religius

Keberagaman bukan ancaman. Tapi cara sebagian orang beragama justru menjadikannya momok. Selama agama dilihat sebagai alat menegaskan identitas kelompok, maka semua yang berbeda akan diposisikan sebagai lawan.

Kalau ingin kehidupan beragama yang damai, harus mulai dari sini: pemahaman agama perlu kembali pada esensinya. Bukan sekadar hafal ayat, tapi mampu menjalani hidup dengan adil, sabar, dan penuh kasih sayang—bahkan terhadap mereka yang berbeda.

Agama seharusnya jadi jalan membentuk pribadi yang matang. Tapi kalau dipakai cuma untuk branding, untuk menghakimi, atau bahkan untuk tujuan politik, maka agama kehilangan maknanya.

Simbol boleh ramai, tempat ibadah bisa bertambah, tapi kalau empati dan kejujuran malah langka, kita cuma punya topeng. Dan topeng itu—sekeras apapun terlihat—enggak akan pernah bisa menutupi kenyataan: kita sedang kehilangan arah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *