Cerita Sarjana S1 jadi Driver Ojek Online Saking Susahnya Cari Pekerjaan

Edukasi95 Views

Kalau bicara soal masa depan lulusan sarjana, dulu bayangannya pasti kerja di kantor, pakai kemeja rapi, duduk di ruangan ber-AC, dan tiap bulan terima gaji tetap.

Coba bayangin, ada sarjana yang udah kirim lamaran ke ratusan tempat kerja tapi ujung-ujungnya cuma dapat penolakan—bahkan seringkali enggak ditanggapi sama sekali. Sementara kebutuhan hidup terus jalan: harus bantu keluarga, bayar utang kuliah, dan biaya hidup makin tinggi. Ojol jadi solusi cepat: langsung bisa kerja, langsung dapat duit. Gak perlu nunggu panggilan kerja yang entah kapan datangnya.

Gaji kerja formal pun sering enggak sebanding dengan beban kerjanya. Posisi entry-level aja minta pengalaman 2–3 tahun, harus jago berbagai software, tahan tekanan, bisa kerja lembur, tapi gajinya mentok di UMR. Ironisnya, penghasilan driver ojol yang rajin bisa sampai 200 ribu sehari—itu artinya bisa dapet lima jutaan sebulan. Bandingkan sama kerja kantoran yang Senin sampai Sabtu, lembur enggak dibayar, dan tiap bulan masih juga kejar-kejaran sama tagihan.

Tiap tahun ribuan sarjana lulus, tapi lapangan kerja enggak bertambah sesuai. Akibatnya, gelar sarjana makin kehilangan daya tawar. Fenomena ini dikenal sebagai “inflasi gelar”, di mana ijazah udah kayak barang umum yang enggak lagi menjamin apa-apa. Bahkan, perusahaan lebih milih calon pekerja yang punya skill dan pengalaman daripada sekadar gelar.

Di tengah tekanan itu, sektor informal seperti ojek online jadi jalan keluar yang realistis. Enggak butuh koneksi, enggak butuh pengalaman, cukup punya motor, SIM, dan niat kerja keras. Sementara dunia kerja formal dipenuhi sistem yang rumit dan seringkali diskriminatif, sektor ini terbuka buat siapa aja.

Banyak orang masih punya pandangan sempit soal kerja ojol. Dianggap sebagai jalan terakhir atau pilihan darurat. Padahal, banyak sarjana yang justru bisa lebih mandiri secara ekonomi lewat ojol. Waktu kerja fleksibel, penghasilan bisa langsung dirasain, dan mereka tetap bisa cari peluang lain sambil jalan. Ini bukan soal menyerah, tapi bentuk adaptasi di tengah sistem yang belum berpihak.

Yang lebih menyedihkan, proses rekrutmen kerja formal pun kadang udah bikin capek dari awal. Tes berlapis, panggilan interview yang enggak kunjung jelas, sampai kontrak kerja yang enggak pasti. Bahkan setelah diterima, banyak yang harus kerja tanpa jaminan sosial, enggak ada BPJS, THR, atau kepastian kontrak jangka panjang.

Kampus nyetak lulusan, tapi enggak nyiapin mereka buat masuk ke dunia kerja. Industri cuma buka lowongan berdasarkan kebutuhan jangka pendek, bukan buat nampung tenaga kerja terdidik secara sistematis.

Fenomena sarjana jadi ojol ini harusnya bukan dijadiin bahan cemoohan. Kenapa pertumbuhan ekonomi yang katanya naik tiap tahun enggak berdampak ke kesejahteraan lulusan baru? Kenapa kualitas hidup malah makin sulit diraih meskipun udah sekolah tinggi-tinggi?

Masalah ini bukan soal gengsi atau prestise. Ini soal realitas ekonomi. Akhirnya mereka pilih kerja apa aja yang bisa langsung kasih pemasukan. Dan dalam situasi sekarang, jadi ojol adalah pilihan yang lebih masuk akal dibanding kerja kantoran yang gajinya kecil dan prosesnya ribet.

Jadi, waktu lihat sarjana narik ojol, jangan buru-buru nge-judge. Bisa jadi mereka lebih realistis dan lebih kuat mentalnya dibanding banyak orang yang masih kejar idealisme tapi hidupnya penuh tekanan. Mereka enggak kehilangan arah, cuma lagi beradaptasi dengan dunia yang berubah terlalu cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *