Kemajuan Bangsa Terhalang Mitos dan Fanatisme: Fenomena Absurd Media Sosial Indonesia

Edukasi30 Views

Di negara lain, 2025 adalah tahun teknologi melesat—AI makin pintar, kendaraan makin canggih, pendidikan makin personal. Sementara di Indonesia, isu yang viral malah soal orang kebal dipukul, jimat penglaris, dan komunitas bela diri supranatural yang bikin lawan mental cuma pakai gerakan tangan. Lebih menyedihkannya lagi, semua itu dibela. Diperjuangkan. Dijadikan identitas.

Apa kabar SDM kita?

Ada hal yang perlu jujur diakui: Indonesia itu kaya orang pintar, tapi sayangnya… enggak diarahkan buat mikir kritis sejak kecil.

Sistem pendidikan kita masih fokus ke hafalan dan nilai ujian, bukan nalar dan pertanyaan. Anak-anak lebih diajarin nurut ketimbang menantang ide-ide aneh. Akibatnya, saat dewasa, mereka gampang banget percaya pada tontonan manipulatif di media sosial yang dibungkus mistik dan simbol agama.

“Yang penting keliatan sakti duluan, mikir belakangan.”

Bicara soal fenomena media sosial Indonesia, kita sekarang hidup di masa di mana banyak orang nyari validasi dari tontonan absurd.

Dari yang pura-pura kebal dipukul, komunitas pencak silat rasa anime, sampai ritual penuh doa sambil ngelempar orang cuma dengan tatapan. Dan anehnya, ini dianggap keren, dijadikan konten, lalu… viral.

Kok bisa?

Karena banyak orang yang enggak dibekali kemampuan berpikir logis. Gagal bedain antara agama dan gimik spiritual. Simbol lebih penting dari isi.

Enggak semua orang ngefans hal aneh karena bodoh. Banyak yang lari ke situ karena realita hidupnya keras.

Pekerjaan enggak layak, biaya hidup tinggi, peluang kecil, mimpi makin jauh.

Akhirnya, komunitas absurd jadi pelarian. Komunitas kebal-kebalan itu ngasih rasa percaya diri. Simbol agama dalam konten mistik itu bikin diri ngerasa lebih mulia. Dunia nyata boleh menghimpit, tapi dunia maya kasih panggung.

Inilah bentuk pelarian akibat frustasi sosial yang lama dibiarkan tanpa solusi.

Yang makin miris, kebiasaan aneh itu bukan lagi hiburan. Udah jadi identitas.

Begitu udah merasa “saya bagian dari komunitas sakti ini”, maka kritik dianggap penghinaan.

  • Logika berhenti berfungsi.
  • Fanatisme muncul.
  • Dan fanatisme ini… bikin negara macet.
  • Bukan cuma macet pikiran, tapi juga macet arah.

Indonesia butuh SDM adaptif. Tapi yang dibentuk malah SDM yang alergi kritik dan merasa benar sendiri.

Ironisnya, energi kita sebenarnya luar biasa.

Bayangin aja, semangat ngumpulin speaker ratusan juta, ngasih hormat ke pendekar konten, dan bikin konten viral setiap hari—semua itu energi kolektif yang besar banget.

Cuma… salah arah.

Coba itu dialihin buat bikin produk audio lokal, startup bela diri modern, atau komunitas teknologi rural.

Tapi sayangnya, karena pendidikan dan budaya berpikir kritis enggak dikasih sejak awal, energi itu jadi buang-buang waktu.

Kalau bangsa ini pengin maju, enggak cukup dengan bilang “harus punya semangat”.

Yang dibutuhkan:

  • Ruang kritik buat semua, bahkan buat tokoh yang disakralkan
  • Akses pengetahuan yang terjangkau
  • Budaya sosial yang enggak gampang merasa diserang kalau diajak diskusi

Kemajuan butuh orang-orang yang bisa diajak debat tanpa marah, bisa nonton yang mistik tapi tetap waras, dan bisa suka budaya tanpa harus buta.

Negara-negara maju udah ninggalin pemikiran magis sejak abad ke-18.

Sementara kita?

Masih sibuk debat soal dukun, ritual kekuatan dalam, dan video kebal pukul yang katanya disponsori semesta.

Kalau terus kayak gini, kita bukan cuma jalan di tempat, tapi mundur dengan bangga.

Dan yang paling rugi? Generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *